just a short story

Sore itu cuaca begitu sejuk. Angin bertiup sepoi-sepoi membelai tubuhku. Matahari pun mulai melemahkan cengkeraman sinarnya kepadaku. Keadaan yang begitu indah dan menyenangkan hati. Ditambah lagi mulai sepinya jalan-jalan sepanjang kompleks MAN Insan Cendekia, yang semakin menambah kesyahduan suasana saat itu.
Hari itu begitu aneh. entah mengapa setiap orang terasa begitu berbeda. Ada yang biasanya begitu baik, tiba-tiba terlihat sangat cuek. Ada pula yang biasanya selalu bersikap ceria, entah kenapa hari ini begitu murung. Dan yang lebih aneh lagi, semuanya bersikap seakan-akan tidak saling mengenal kepada semua orang. Tidak hanya kepadaku. Bahkan kepada teman-teman mereka yang akrab pun, mereka seakan-akan tidak pernah saling mengenal.
Kejadian hari itu dimulai ketika aku bangun tidur. Aku yang biasanya bangun pukul empat pagi, tiba-tiba terhenyak pada pukul dua dini hari karena mendengar sebuah dentuman yang begitu keras. Kulihat keluar melalui jendela asramaku, namun tak kulihat apapun. Kucoba tunggu hingga beberapa menit, namun tetap tidak ada yang berubah. Lalu coba kulihat teman sekamarku, Yuko, Husen, maupun Alfa. Namun mereka tetap tertidur pulas seakan-akan tidak terjadi apapun. Aku pun masih tidak percaya tentang hal itu. Kulihat kembali melalui jendela ke tempat yang kukira terjadi dentuman itu. Namun ternyata hasilnya pun sama. Tidak terjadi apapun. Aku pun bertanya dalam hati apakah aku sedang bermimpi? Tapi aku yakin itu bukan mimpi. Kucubit pipiku sekuat tenaga. “Auw,” teriakku akan hal itu.
Paginya kuceritakan hal terseut pada teman sekamarku. Namun mereka hanya berkata hal terebut mungkin hanya mimpi.
“Pasti lo cuma mimpi. Lupain aja deh!”kata Husen.
“Bener tuh. Lupain aja deh. Paling cuma mimpi buruk doang. Pasti lo cuma ketakutan gara-gara hari ini ulangan fisika,” tambah Yuko, ketua kamarku.
“Memang sih hari ini ada ulangan fisika. Dan dalam tb-tb sebelumnya gue selalu remedial. Tapi biasanya nggak bakalan setakut itu kok,” kataku.
“Ya udah kalau begitu lupain aja deh,” tambah alfa. Dalam hati aku berpikir kalau hal tersebut pasti susah buat dilupakan.
Aku pun segera menuju ke masjid untuk melaksanakan salat subuh. Setelah itu, aku segera pergi menuju kantin. Setelah sarapan di kantin, aku merasakan ada yang aneh dengan menu kantin pagi ini. Menu yang biasanya disajikan tidaklah seperti biasa. Menu sarapan kali inibegitu mewah. Yah, bisa dibilang seperti menu sarapan di hotel bintang 5. Padahal biasanya makannya tidak pernah semewah hari ini. Ditambah lagi pelayanan yang begitu ramah dari petugas kantin yang hari ini mengunakan seragam layaknya chef-chef berkelas dari restoran ternama.
“Tumben sih makannya enak! Ada apaan emang? Tanyaku kepada indra
“Nggak tau ah! Lagi baru dapet kontrak baru kali” jawabnya
Setelah selesai makan, aku segera balik menuju asrama. Seperti biasa setelah merapikan buku, aku segera mandi. Tak lama kemudian, aku pun telah selesai mandi. Setelah merapikan diri, aku segera mengambil jas almamater kebangganku dari dalam lemari. Lalu, tas pun segera kuambil dan berangkat sekolah. Alangkah kagetnya aku ketika melihat seluruh barisan apel putra telah rapi dengan siswa putra menggunakan dasi semuanya tanpa kecuali.
Dalam hati aku pun berpikir tentang momen apakah yang membuat para siswa menggunakan dasi. Ada upacara? Bukan. Karena tadi malam tidak ada latihan paskibra. Sosialisasi disiplin? Juga bukan. Kan hari ini bukan hari Senin. Kucoba untuk bertanya pada teman di sampingku.
“Iz, hari ini kok pada make dasi sih?” tanyaku kepada Faiz
“Bodo amat!” jawabnya secara ketus.
Sontak aku kaget mendengar jawabannya. Seolah-olah aku ini bukan siapa-siapa. Faiz yang biasanya selalu menjawab pertanyaanku secara baik-baik, tiba-tiba berubah. Ia menjawab denagn ketus. Sebuah peristiwa yang tidak kuduga sama sekali. Aku pun mencoba bersikap sabar dan segera beralih dari tempat ini untuk bergeser ke tempat yang lain. Masalahnya semua anak yang aku tanya selalu menjawab secara ketus. Tak peduli teman akrab ataupun yang tidak berteman akrab.
Aku pun mencoba memperhatikan keanehan tersebut sembari berjalan menuju kelas ku di XI NS 1. Pagi ini aku sama sekali tidak melihat adanya celotehan konyol yang keluar dari mulut anak-anak. Semuanya seolah diam membisu. Tidak ada suara satupun pada pagi itu. Hanya kicauan burung-burung yang terdengar. Aku pun segera menaruh tas di tempat yang biasa aku duduki. Kali ini aku duduk bersebalahan dengan Teguh. Entah kenapa Teguh yang biasanya selalu ramai berbicara pagi ini diam seribu bahasa. Tampang teman-teman juga serius semua. Padahal hari ini bukanlah pekan ujian akhir semester. Hari ini hanya ada satu ulangan, yaitu ulangan fisika. Biasanya anak-anak juga masih tetap sering bercanda meskipun hari ini ada ulangan. Walaupun ulangan tersebut adalah matematika dengan bab limit atau diferensial sekalipun.
Bel kelas pun berbunyi. Kami pun akan segera memulai pelajaran. Pelajaran pertama kami hari ini adalah matematika. Tidak terasa sudah dua puluh menit berlalu. Namun, Bu Sofi tetap belum hadir di kelas kami. Padahal biasanya beliau selalu hadir tepat waktu. Apalagi kelas kami yang sangat sepi hari ini. Semakin menambah kesunyian kelas kami hari ini. Tidak ada candaan yang keluar dari Musfiq, suara teriakan dari Raras, atau suara minta uang kas dari Elfi.
Tidak terasa hari telah menjelang siang. Lapar ataupun haus yang biasanya kurasakan menjelang datangnya makan siang, seolah-olah saat ini tidak kurasakan karena keanehan ini. Beberapa anak juga sudah kutanyakan pendapatnya mengenai apa yang terjadi tadi malam. Tapi mereka selalu menjawab tidak tahu tapi dengan nada ketus. Lebih dari 20 orang yang telah kutanyakan. Aku pun sudah hampir putus asa mengenai hal ini. Tiba-tiba salah seorang temanku menghampiriku dan bertanya kepadaku.
“Dib, lo ngerasa ada yang aneh nggak hari ini?” tanya Yofie padaku
“Gila, banyak banget!” jawabku
“Lo juga ngerasa ada yang aneh juga? Baru lo yang jawab kaya gini ke gue waktu gue tanya ke semua anak,” ujar Yofie
“Masa sih?” tanyaku padanya
“Iya, suer deh!” jawabnya padaku
“Gimana kalo kita cari tahu soal ini?” tanyaku padanya dengan penuh harap
“Oke deh,” jawabnya dengan penuh semangat
Akhirnya kami pun segera menuju ek kantin untuk makan siang. namun, dibalik itu semua, kami terus memperhatikan sekeliling kami mengenai keadaan yang terjadi di sekitar kami. Hari pun semakin siang. Tak terasa makanan yang harus kami makan pun telah habis. Kami pun segera kembali ke kelas kami masing-masing dan berjanji untuk segera bertemu kembali di depan ruang OSIS setelah pulang sekolah sembari mengajak teman-teman yang masih berlaku “normal” untuk bergabung dengan kami.
Hati semakin tak sabar menunggu usai sekolah yang membosankan ini. Dan akhirnya bel yang kutunggu pun berbunyi. Aku segera pergi menuju masjid unutk menunaikan shalat. Usai menunaikan shalat, aku pun berdoa sejenak agar segalanya kembali normal. Karena aku sangat merindukan teman-temanku yang dulu yang begitu baik kepadaku.
Selesai berdoa, aku pun segera menuju ke depan ruang OSIS. Tak kusangka ada beberapa teman-temanku yang klain yang bergabung dengan kami. Tampak kulihat ada Abil, Rahman, Boim, dan Fuzta. Menurut Yofie, sebenarnya masih ada beberapa siswi yang ingin sekali untuk diajak ikut berkumpul. Namun Yofie menolak. Karena ia takut akan keselamatan jiwa mereka. Aku pun pasti akan melakukan hal yang sama jika pada posisinya.
Kami pun berbincang-bincang mengenai hal-hal yang aneh pada hari ini. Namun, semuanya tidak seaneh apa yang kualami sendiri. Meskipun ada yang merasa janggal dengan kejadian hari ini. Aku pun coba menceritakan apa yang terjadi tadi malam kepada mereka semua. Namun, tanggapan mereka tetaplah sama dengan apa yang kudengar dari semua anak kamarku. Itu hanyalah mimpi buruk belaka. Aku pun mencoba berargumen akan hal itu. Namun, pendapatku selalu ditentang. Akhirnya kami pun hanya berkumpul sejenak. Karena mereka berlima justru memutuskan untuk pergi.
Tinggallah ku sendiri di depan ruang OSIS. Sunyi, sepi, tak ada satupun orang yang lewat pada sore ini. Aku pun hanya bisa duduk termenung sambil mendengarkan musik dari mp3 player kesayanganku, sambil mengingat-ingat tentang apa yang aneh pada hari ini. Entah mengapa ada sesuatu yang terlupakan dibalik semua ini. Namun aku tak bisa mengngatnya. Kucoba terus mengingatnya, namun selalu gagal. Seakan-akan ada sebuah batu penghalang yang menutupi akan hal itu. Aku pun menyerah dan hanya bisa larut dalam keheningan sore itu, serta kembali ke kamar denagn perasaan hampa.
Malam harinya usai salat Isya, aku pun mencoba untuk mengulangi apa yang kulakukan pada pagi tadi. Kukira-kira apa yang terjadi dan apa yang ditumbuk oleh benda tersebut. Dan menurut perhitunganku, benda tersebut seharusnya jatuh di sekitar lapangan sepak bola. Bergegaslah aku menuju lapangan sepak bola. Meskipun hujan turun dengan lebat, kucoba untuk menerobosnya. Aku pun tidak peduli dengan bajuku yang benar-benar basah. Aku hanya ingin agar keadaan kembali seperti semula. Aku hanya ingin teman-temanku yang dulu kembali. Ada candaan maupun gurauan, suka maupun duka, dan berbagai macam rasa yang telah tercampur aduk. Aku hanya ingin agar teman-temanku yang baik kembali. Apapun itu caranya, aku rela melakukannya agar hal itu dapat terjadi.
Akhirnya tibalah aku di lapangan sepak bola. Keadaan begitu gelap. Yang kulihat hanya petir yang terus meraung-raung menyambar lapangan sepak bola. Aku tahu jika lapangan sepak bola dapat menjadi medan listrik yang berbahaya. Namun, aku tidak peduli akan hal itu. Kucoba tuk berlari mengelilingi lapang sepak bola, sambil melihat adakah bongkahan batu yang janggal. Karena aku yakin tumbukan tersebut pasti terjadi di sini.
Lima belas menit sudah aku berkeliling. Dan tidak ada satupun hasil yang berhasil kutemukan. Tak terasa air mata telah berlinang membasahi relung pipiku. Aku pun hanya bisa berteriak sambil menangis, “Tolong! Kembalikan semuanya menjadi semula!” Bersamaan dengan hal itu tiba-tiba kudengar suara-suara di belakangku. Suara-suara tersebut makin lama makin keras. “selamat ulang tahun… selamat ulang tahun…” teriak teman-temanku. Sontak aku pun kaget akan hal itu. Aku baru menyadari jika hari ini adalah hari ulang tahunku. Teman-temanku segera mengerubungi aku. Ada yang tertawa-tawa puas, ada yang tersenyum gembira, dan berbagai macam ekspresi yang begitu kurindukan hari ini. Mereka seakan sukses menjahilin aku. Tiba-tiba di antara mereka ada seseorang yang membawakan sebuah kue tart lengkap dengan lilinnya. Dan tak kusangka dia adalah …

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s