Bersyukur?

ya, akhirnya sampai juga saya pada 2 minggu sebelum UN. kebetulan, saya nemuin artikel bagus nih yang dicopy dari blognya umi. enjoy this!
Bersyukur, Sesederhana itulah…

di tiga bulan terakhir saya berada di Insan Cendekia Serpong ini, saya banyak melakukan introspeksi pada diri sendiri. terus terang, berkesempatan menjalani tiga tahun bersekolah bebas biaya alias beasiswa bukan hal yang bisa dengan mudah saya acuhkan dan saya tinggal tidur. anggaplah besok adalah hari kelulusan saya, and see, hari ini saya masih begini-begini saja, menjadi orang biasa, dengan kompetisi biasa, prestasi sedang-sedang saja, apa yang bisa dibanggakan?

oke, gini deh, besok lo mau lulus dari sekolah yang udah ngebiayain lo sekolah GRATIS tiga tahun penuh, dari mulai formulir pendaftaran, biaya masuk, SPP, seragam, makan, tidur, listrik, buku, semuanya betul-betul full dibiayai. terus lo tiba-tiba kerasukan oleh semacam malaikat—mana ada kerasukan malaikat ya—dan sadar kalau lo belum ngelakuin hal-hal yang berarti atas apa yang udah lo dapat selama ini.

gimana coba?

tanggung jawab. berat banget buat nulis dua kata itu. nulis aja berat, apalagi melakukannya secara real.

yap, saya masih ngerasa belum bertanggung jawab dengan baik atas apa yang sudah saya terima selama ini. kalau dipikir-pikir, di zaman sekolah serba Internasional dan serba mahal ini, dapet pendidikan yang—perlu digarisbawahi—SUPERMUTAKHIR, GRATIS pula, bisa dikatakan sebagai anugerah terbesar zaman ini, yang buat ngedapetinnya mesti pake tiket emas.

iyalah, bayangkan! zaman sekarang, di Indonesia, pendidikan dengan kualitas tinggi itu normalnya sih berbanding lurus dengan taraf biaya pendidikannya, sekolah bagus=sekolah mahal. sekolah ga seberapa bagus=sekolah..ya murahlah. makanya langka banget buat dapet kesempatan dididik di sekolah yang BAGUS tapi GRATIS kayak yang saya alami tiga tahun terakhir ini.

ditambah kalau mengingat berapa ribu siswa SMP yang waktu itu menjadi saingan saya dalam seleksi masuk IC, wah, ga karuan deh. saya ingat, banyak siswa yang benar-benar berasal dari golongan papa dan serius butuh pendidikan bagus dan gratis, mereka berusaha keras untuk ikut seleksi. bekalnya saja belajar berapa malam engga merem tuh. sampai ikut les khusus segala, tapi mereka ngga diterima. sedangkan saya, yang waktu itu berangkat dengan persiapan seadanya; doa orang tua, dan mengerjakan tesnya juga terbilang asal, malahan diterima. hah, makanya saya cuma beristighfar kalau mengingat wajah-wajah yang harus memupus harapan mereka untuk bersekolah di sini. menampar diri sendiri dengan tamparan keras, “Seharusnya mereka lebih berhak daripada kamu!”

tapi saya selalu melihat hikmah dari semua hal yang terjadi. kenapa saya ditakdirkan masuk ke IC padahal saya engga pake jurus belajar tujuh hari tujuh malam ditambah bertapa di gua Mbah anu tiga hari tiga malam? oh, mungkin Tuhan memang sedang mengajari saya untuk menjadi hamba yang pandai bersyukur.

ohya, jadi inget juga. kemarin, seorang teman saya memperlihatkan sebuah message di facebook. kiriman dari seorang siswa calon peserta didik baru t.a 2011/2012. dan percaya atau tidak, saya menitikkan air mata ketika membacanya.

siswa itu mengutarakan sejuta alasan kenapa dia ngebet banget buat masuk IC.

mau tau apa saja alasannya?

pokoknya semua alasannya akan membuat Anda tersindir dan kalah telak.

“IC is my everything”

ya, bagi dia, bersekolah di IC adalah segala-galanya.

dan yang paling bikin saya salut adalah, hari ini dia masih terdaftar sebagai seorang SISWA KELAS X di sebuah SMA di Jakarta! itu artinya, jika ia lulus seleksi, dia akan kembali lagi ke kelas X. Dia akan rela kalau pun harus mengulang satu tahun lagi.

saya hanya beristighfar. melihat betapa banyak orang yang punya cita-cita untuk bersekolah di IC, sekolahku sekarang. betapa mereka memimpikan untuk bisa berseragam dengan bet “MAN Insan Cendekia Serpong” di lengan kanannya. betapa mereka bersungguh-sungguh untuk membela habis-habisan impiannya itu. sedangkan saya, yang sudah diberi kesempatan itu secara cuma-cuma, kasarnya, “Lo ga minta aja dikasih!” gitu, malah belum bisa mengoptimalkan potensi yang sudah diberi.

ampuni hambaMu yang zalim ini, ya Allah..

well, akan sia-sia sepertinya jika saya sudah berpanjang lebar di sini, tapi perilaku saya tidak menampilkan perubahan yang berarti.

ya, kita jadikan ini sebagai bahan perenungan. mumpung masih ada waktu untuk menjalani segala hal yang Allah titipkan pada kita ini dengan penuh tanggung jawab dan penuh kesyukuran.

bismillahirrahmanirrahim.

allahumma inni dzalamtu nafsin dzulman katsiira, la yaghfiruddzunuuba illa anta, faghfirli, maghfiratan min ‘indika, warhamni, innaka anta al-ghafurrurrahiim..

berkahilah ilmu kami, ya Allah..

Amin.
http://urfaseorang.tumblr.com/

jadi, bisa dibayangkan kalau beban seorang anak yang dibeasiswain oleh depag itu berat banget. asumsikan seperti ini:
Kalo misalnya uang yang kita dapet itu 2.500.000,00 tiap bulan. Trus kalo kita kalikan 12 kali untuk satu tahun, maka angka yang kita dapatkan adalah 30.000.000,00. wow, angka yang fantastis bukan!!
bayangkan aja dengan uang sebesar itu, satu orang dari kita dapat membantu menyekolahkan 25 orang siswa kurang mampu dengan asumsi tiap tahun dia butuh 1.200.000,00. jadi, kalau satu angkatan yang jumlahnya 120, akan mampu membantu 3000 siswa!!

so, di sisa 2 bulan terakhir kita di MAN ICS yang kita cintai ini, ayo kita buat sebermakna mungkin. Karena, tanggung jawab yang kita pegang begitu besar. Jangan sampai kita harus menzhalimi lebih lanjut orang-orang yang kondisinya lebih membutuhkan dari kita!
I believe we can do it!

3 Comments

  1. Jujur, saya sgt iri dg anda. Begitu mudah nya anda bisa bersekolah di IC. Saya jg pengen, pengen sekali seperti anda. Dan tujuan utama saya pengen ke IC karena saya hanya ingin membuat orangtua saya bangga, melihat mereka tersenyum melihat saya. Karena saya sadar selama ini saya belum bisa membalas jasa mereka, saya hanya menyusahkan dan menambah beban hidup mereka. Maka dari itu saya pengen melihat mereka tersenyum dan bangga akan saya karena setidak nya itu bisa membuat mereka lebih tegar menjalani hidup. Saya berasal dari keluarga yg bisa dikatakan sgt dan sgt sederhana. Saya baru duduk di kelas IX di sekolahan daerah yg sgt terpencil sampai2 jarang ada orang yg tau tempat tinggal saya itu dimana. Dan saya hanya gadis pemimpi. Mungkin mimpi saya untk bersekolah di MAN IC ini terlalu tinggi. Dan saya takut tidak bisa menggapainya. Saya takut tidak bisa membuat orang tua saya bangga. Saya takut, saya sedih. Saya bukan ilmuwan yg mempunyai otak yg sgt genius. Saya hanya punya ketekatan dan selalu percaya ALLAH mengabulkan do’a saya…

    Maaf, saya sudah ngomong p x l x t. Sebenarnya, saya cuma mau tanya. Apa saja persyaratan masuk di MAN IC?

    Reply

    1. sebenernya sih gak semudah itu juga. itu semua berkat rezeki dari yang di atas.
      untuk sekolah di IC, setau saya gak ada batasan harus tinggal di daerah perkotaan kok. semua daerah seluruh indonesia bisa masuk ke IC kok. yang penting sesuai dengan syarat yang udah ditentuin sekolah. setau saya, syaratnya juga gak aneh-aneh kok. terakhir, banyakin berdoa ama tetep yakin kalo mimpimu bakal tercapai

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s