Macet terus! Adakah solusinya? (kastrad 1)

Sebuah hal yang ironis melihat sebuah negara memiliki sebuah ibukota yang dapat dikatakan amburadul dalam segi penataan kotanya. Ya, jakarta sebagai kota metropolitan terbesar pertama di Indonesia telah lama menjelma seperti sarang laba-laba yang ruwet tak berujung. Mengapa dikatakan layaknya sebuah sarang laba-laba, tidak lain karena telah begitu berantakannya penataan tata kota di Jakarta ini. dimana-mana nampak kemacetan. Bahkan di Jalan Sudirman utamanya pada saat jam-jam sibuk kantor, akan menimbulkan kemacetan yang tiada tara alias macet total hingga berjam-jam. bahkan ada anekdot yang berkembang jika Jakarta baru akan benar-benar sepi pada pukul 1 malam, dan akan kembali sibuk pada pukul 4 pagi.
Pemerintah Provinsi DKI jakarta bukannya tanpa solusi akan masalah ini. mungkin sudah lebih dari 2 periode gubernur DKI telah disibukkan dengan permasalahan ini selain tentunya masalah banjir yang tidak pernah berkurang. Berbagai alternatif solusi telah dicoba. Mulai dari yang sederhana hingga yang benar-benar berteknologi tinggi. Cara sederhana adalah cara konvensional polisi dalam memecah arus kemacetan lalu lintas. Seperti memberikan alternatif jalan bagi pengguna jalan sehingga tidak terjadi penumpukan jalan utamanya pada jam-jam sibuk. Namun, hal tersebut tidaklah berjalan efektif. Karena, pada kenyataannya justru menambah titik kemacetan di titik lain. Hal itu tidak lain karena kondisi infrastruktur yang belum terlalu memadai.
Solusi lainnya adalah memberdayakan public transportation atau dalam kata lain angkutan transportasi massal. Yang paling terkenal tentu adalah beroperasinya bus transjakarta yang kini telah menjakau hampir ke seluruh titik di Jakarta. Dengan harga tiket yang dapat dibilang terjangkau (Rp 3500,00) serta fasilitas yang lumayan kita dapat menikmati fasilitas ini. namun, masalah kembali muncul. Pembangunan koridor koridor busway justru menambah kemacetan di sejumlah titik. Karena, pembangunan koridor tersebut malah mamakan bahu jalan yang sebelumnya sudah sempit. Disamping hal tersebut, beberapa kesalahan yang disebabkan human error yang belakangan ini cenderung meningkat, juga turut menambah masalah baru bagi pemerintah DKI.
Disamping transjakarta, juga pernah direncanakan pembangunan monorail. Namun, hal tersebut urung dilaksanakan karena terbentur biaya dan pembebasan lahan. Selain itu karena tata kota yang buruk, mengakibatkan tidak bisa dibangunnya salah satu sektor monorail yang berada di bawah tanah alias underground. Justru kota-kota lain seperti Bandung dan Surabaya yang memiliki power plan akan monorail tersebut.
Selain pemberdayaan transportasi massal, juga dilakukan pembangunan jalan layang. Kalau boleh dikata, di satu sisi pembangunan jalan layang akan memecah arus lalu lintas di jalan raya. Namun, di sisi lain apabila di ujung jalan layang tersebut tidak terdapat pengaturan jalan yang baik justru akan menjadi buah simalakama. Karena kemacetan besar akan terjadi. Hal tersebut disebabkan, dengan jumlah volum kendaraan yang meningkat seiring pertambahan jumlah lajur yang mungkin dilewati (kini ada dua lajur, di atas jalan layang dan di bawah jalan layang), namun memiliki 1 pintu keluar. Karena tidaklah mungkin kendaraan yang berada di atas jembatan layang akan terus menerus berada di jalan layang tersebut. Saat kendaraan turun itulah berpotensi kemacetan.
Tentunya sudah banyak solusi lain. Namun, solusi yang akan dikemukakan ini tak ada salahnya untuk dicoba. Selama ini, penambahan jumlah kendaraan yang beredar tidaklah pernah diimbangi dengan pertambahan jalan. Alangkah bijaknya jika mulai sekarang penambahan volum kendaraan tersebut dikurang. Salah satu caranya pembatasan tahun kendaraan yang beredar di jalan raya. Misalkan yang boleh beredar hanyalah kendaraan th 1990 ke atas. Hal tersebut juga berlaku bagi kendaraan transportasi umum. Salah satu pertimbangannya selain faktor performa yang tentu telah menurun sehingga dapat mengganggu kelancaran arus lalu lintas, juga dapat mendukung Indonesia Go Green. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Mobil keluaran lama memiliki sistem emisi yang dapat dikatakan buruk apabila dibandingkan dengan mobil keluaran baru. Efeknya, asap knalpot yang keluar akan lebih pekat dan tentu mengganggu kadar udara di daerah sekitarnya. Sekali lagi, hal ini berlaku tidak hanya untuk kendaraan pribadi namun juga bagi kendaraan angkutan massal.
Tentunya tak ada yang tak mungkin untuk kita dalam mengatasi hal ini. apabila ada yang mengakatakn jika sulit untuk membenahi kemacetan jakarta, berarti ada kemungkinan jika kemacetan tersebut dapat diatasi. Dengan peluang yang kecil tersebutlah kita harus berusaha maksimal dengan bantuan dari seluruh elemen masyarakat tanpa kecuali. saya pribadi yakin kalau kita telah berkehendak dengan sungguh-sungguh Insya Allah maslah ini akan dapat terselesaikan. Karena, Impossible is nothing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s