Balada Pesawat Kepresidenan

Tidak ada yang menyangkal jika presiden sering bepergian dalam kunjungan kenegaraan. Baik kunjungan ke daerah-daerah di Indonesia, mapun ke negara-negara sahabat. Dan tentunya, dalam menempuh perjalanan tersebut, dibutuhkan mode transportasi yang mampu memberikan kenyamanan maupun efesiensi waktu bagi presiden. Tak ayal, pesawat kepresidenan pun menjadi “barang” yang penting dalam perjalanan presiden kita.
Namun di balik itu semua, pembelian pesawat boeing 737-800 BBJ 2 (boeing bussiness jet) sontak menjadi topik hangat untuk diperdebatkan. Ada pihak yang menyetujui, namun ada pula yang menyayangkan pembelian tersebut. Beberapa pihak malah menyesalkan pemerintah yang lebih memilih pesawat jenis tersebut dibandingkan dengan pesawat CN-235 yang notabene made in Indonesia.
Pembelian pesawat boeing terebut menjadi topik hangat karena berita ini keluar beberapa hari setelah presiden kita membacakan pidato yang secara umum membahas mengenai usaha penghematan anggaran negara. Memang di satu sisi, memiliki sebuah pesawat kepresidenan merupakan sebuah kebanggan tersendiri. Karena, tidak semua negara memiliki pesawat kepresidenan dengan harga yang dibilang fantastis untuk ukuran pesawat jenis medium range. Namun di sisi lain, pembelian ini juga turut memberikan sinyalemen buruk akan pengeluaran berlebih yang dilakukan oleh pemerintah kita. Mengingat, masih banyaknya sektor lain yang jauh lebih membutuhkan akan dana tersebut. Sebut saja sektor pendidikan dan kesejahteraan rakyat.
Disamping itu, pembelian pesawat ini juga secara tidak langsung mencederai slogan “Aku bangga menggunakan produk Indonesia”. Mengapa? Tidak lain karena Indonesia sendiri sejatinya juga memiliki industri penerbangan yang tidak kalah dibandingkan industri penerbangan lain, meskipun belum mencapai lingkup perusahaan raksasa layaknya Boeing dan Airbus. Bahkan, negara tetangga yang sejatinya lebih makmur dibandingkan kita, Malaysia dan Brunei Darussalam, memiliki pesawat kepresidenan yang asli buatan PT DI. Yaitu pesawat jenis CN 235-220 yang sudah dimodifikasi versi VIP. Dapat dikatakan ironis. Saat negara lain menggunakan armada pesawat kita, justru kita membeli pesawat dari negara lain.
Ada sedikitnya dua nilai lebih apabila menggunakan pesawat buatan PT DI tersebut. Yang pertama tentunya rasa bangga kita sebagai bangsa Indonesia. Siapa yang tidak bangga jika produknya dipakai oleh seorang presiden yang nantinya akan dipakai dalam menjalankan kewajiban beliau sebagai seorang presiden. Yang kedua, dengan menggunakan pesawat buatan bangsa kita sendiri menunjukkan bahwa kita juga mampu menciptakan benda berteknologi tinggi. Sehingga, kita dapat menunjukkan pada dunia jika SDM Indonesia tidaklah kalah dibandingkan bangsa-bangsa lain.
Apabila kita menilik kondisi bandara di seluruh Indonesia, tidak semua bandara memiliki landasan pacu yang cukup panjang. Hal inilah juga yang menjadi bahan perdebatan berbagai pihak karena pemerintah tetap ngotot membeli pesawat jenis ini. tentu tidak mungkin setiap saat presiden akan terus melakukan kunjungan luar negeri. Bukankah masih banyak daerah-daerah yang membutuhkan kunjungan seorang presiden yang tidak memiliki bandara dengan landasan pacu yang memadai. Melihat fakta tersebut, tentu agak sedikit kurang berguna pembelian pesawat berjenis boeing 737 BBJ 2 itu.
Agak lebih bijak jika pemerintah lebih menginvestasikan dananya pada pesawat CN 235-220 versi VVIP yang harganya jauh dibawah pesawat Boeing 737 BBJ2 dan tetap menggunakan sistem sewa kepada pihak Garuda Indonesia untuk pesawat kepresidenan utamanya untuk perjalanan kepresidenan ke luar negeri. Ada dua alasan yang cukup logis mengenai pendapat saya tersebut. Yang pertama, mengapa menginvestasikan ke pesawat CN 235? Karena pesawat jenis tersebut dapat digunakan menjangkau bandara di Indonesia yang tidak selalu memiliki landasan pacu yang cukup panjang. Sehingga, pesawat jenis ini cocok untuk pesawat kepresidenan dalam pejalanan mengunjungi daerah-daerah di seluruh Indonesia. Lalu yang kedua, mengapa tetap menyewa ke pihak Garuda Indonesia? Yang pertama, apabila kita membayar sewa ke pihak maskapai yang notabene BUMN, tentunya negara pada akhirnya juga akan memperoleh keuntungan. Selain tentunya juga ikut menghidupkan BUMN. Yang kedua, dengan presiden menggunakan pesawat Garuda, secara tidak langsung akan mempromosikan maskapai itu sendiri ke dunia. Efeknya, maskapai ini akan semakin dikenal dunia dan pada akhirnya diharapkan tingkat okupansi dari maskapai ini khususnya yang melayani jalur lintas negara akan semakin meningkat pula.
Pada akhirnya, segala keputusan tetaplah di tangan pemerintah. Satu hal yang pasti, selama pesawat kepresidenan, apapun jenisnya, digunakan secara maksimal untuk kebutuhan rakyat dan kemaslahatan bangsa Indonesia, itu tidaklah masalah. Yang menjadi masalah apabila kinerja presiden justru menurun dengan adanya pesawat kepresidenan tersebut. Semoga dengan hadirnya pesawat kepresidenan yang baru di tengah-tengah bangsa ini akan mampu menerbangkan bangsa ini ke masa depan yang lebih cerah. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s