Potret Indonesia akan Datang

Seorang bijak pernah berkata, lihatlah generasi muda suatu bangsa, maka anda akan melihat masa depan dari bangsa tersebut. Jika generasi muda bangsa tersebut memiliki perilaku yang baik, maka dapat diperkirakan jika bangsa itu akan menjadi bangsa yang maju dan sukses. Namun, apabila generasi muda bangsa tersebut berperilaku tak beradab, maka dapat diperkirakan jika bangsa tersebut akan semakin hancur dan semakin kelam perjalanannya.
Sebuah pernyataan yang dapat pula menggambarkan bangsa Indonesia saat ini. apakah Indonesia akan maju, atau justru semakin terpuruk berada pada pundak kita semua, sebagai generasi muda dari bangsa ini. hal yang sebenarnya patut untuk kita kritisi bersama. Ketika mahasiswa sibuk melakukan aksi di luar kampus, dengan mengatasnamakan penderitaan rakyat akan suatu problematika kehidupan, justru di dalam kampus terdapat banyak masalah yang mungkin dapat dikatakan remeh, namun dapat berakibat fatal.
Ketika mahasiswa sibuk mengatakan menolak korupsi, atau ketika mahasiswa sibuk mencerca seorang koruptor, di kampus justru berkembang benih-benih korupsi. Berkembangnya fenomena titip absen (TA) justru menimbulkan sesuatu yang ironis. Bukankah ketika seseorang tersebut melakukan TA, mereka juga membohongi diri mereka sendiri serta lembaga tempat mereka menuntut ilmu. Dan ketika lembaga tempat mereka menuntut ilmu dibiayai atau disubsidi oleh negara, maka mereka juga membohongi rakyat, yang notabene turut membantu biaya perkuliahan mereka yang dibayarkan melalui pajak negara. Lalu, apa bedanya mereka dengan koruptor yang selama ini mereka cerca. Toh, mereka sama-sama membohongi rakyat, sama-sama menggelapkan uang rakyat meskipun dalam konteks yang berbeda. Dan ironisnya, mereka dengan bangga dan tanpa berpikir panjang melakukan hal tersebut.
Ketika mahasiswa menuntut pemerintah menghargai suara mereka, justru mereka terkadang tidak menghargai kerja dari seorang tenaga pengajar di tempat mereka bernaung. Dengan mudahnya mengucapkan nama dosen tanpa menggunakan sapaan yang pantas, meskipun dalam kondisi dimana tidak ada dosen tersebut. Atau keluar dari ruang perkuliahan ketika perkuliahan masih berlangsung. Meskipun kita memang dipersilahkan keluar ruangan jika ingin, namun hal tersebuut secara tidak langsung akan memberikan dampak negati secara psikologis kepada pengajar tersebut. Seakan-akan, adab serta budi pekerti yang diajarkan selama kurang lebih 12 tahun dalam jenjang pendidikan dasar menguap tanpa bekas. Lalu, bagaimana kita mau dihargai seseorang, jika dengan seseorang yang lebih berilmu dari kita saja, kita tidak mau menghargainya. Bukankan ada hadits rasulullah yang mengatakan jika, hormatilah seseorang salah satunya karena ilmu mereka.
Disini, saya adalah seorang mahasiswa. Yang mungkin saja menjadi salah satu dari mereka. Seseorang yang mungkin hanya besar mulut daripada banyak melakukan sesuatu yang positif. Namun, mengapa kita tidak berubah dari sekarang. Tak adanya ruginya seseorang masuk kuliah, menyimak pelajaran dari seorang dosen, dan keluar dengan mengucapkan terima kasih atau setidaknya memberikan senyuman ketika bertemu beliau. Tidak ada yang tahu jika dengan kita melakukan seperti itu, ilmu yang kita terima menjadi bermanfaat.
Saya juga tidak menolak adanya aksi mahasiswa di luar sana. Namun, alangkah baiknya jika mahasiswa berubah terlebih dahulu. Berubah menjadi lebih baik dalam hal akhlak budi pekerti dan menyalurkan aksinya dalam sesuatu yang lebih cerdas dan bermakna. Sehingga, stigma negatif sebagian masyarakat yang menganggap mahasiswa sebagai biang onar menghilang. Alangkah baiknya jika aksi yang kita lakukan tidak berlawanan dengan kewajiban kita sebagai mahasiswa penuntut ilmu, dan juga sebagai anak dari orang tua yang menginginkan kita suskses di perkuliahan. Toh, kesemuanya akan kembali kepada orang tua. Dalam arti lain, apabila orang tua ridha dan senang akan apa yang kita lakukan, maka Tuhan pun akan mendukungnya. Namun, apabila orang tua justru meradang melihat tingkah olah kita, atau bahkan malah sampai marah, maka Tuhan pun akan marah. Karena, kesemuanya kembali pada ridha orang tua kita.
Jadi, perbaikilah akhlak kita bersama. Karena, tanggung jawab akan kejayaan Indonesia ada di tangan kita semua. Tak peduli apa jurusan kita, apa almamater yang kita gunakan, kewajiban mengembalikan kejayaan Indonesia ada di tangan kita, mahasiswa Indonesia. Dengan dimulai dari hal yang kecil, kelak akan berkembang menjadi perubahan yang besar.
Hidup Mahasiswa Indonesia!

3 Comments

  1. Reblogged this on Lity and commented:
    fenomena tipsen. sejauh ini aku hanya bisa, tidak tipsen utk diri sendiri. tapi, melihat yg lain tipsen? gimana caranya?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s