Memiliki Kehilangan

Rasa kehilangan
Hanya pernah ada
Jika kau pernah merasa memilikinya
(letto)

Pernahkah kau merasakan adanya sesuatu yang hilang?

Hilang karena diambil? Atau justru kitalah penyebab kehilangan itu

Bagaimanakah rasa kehilangan itu? Sakit? Sudah pasti. Karena kini kumerasakan hal tersebut.

Buatku, 2 minggu ini adalah minggu yang sangat berat. Baik secara mental maupun fisik. Kesemuanya berawal pada tanggal 2 Juni 2012 pukul 19:43. Sebuah sms masuk ke dalam inbox hp ku. “Mas, mbah meninggal”. Singkat, namun begitu menusuk. Singkat, namun bermakna begitu dalam. Kakekku dari mama telah meninggalkan dunia fana ini untuk selamanya. Sebuah kabar duka yang harus kuterima hanya beberapa jam setelah aku memberikan pesan jarkom ke anak-anak axivic mengenai meninggalnya nenek dari kak Iim.

Perasaan bercampur aduk dalam benakku. Antara sedih serta kecewa. Sedih, karena aku telah ditinggalkan kakek untuk selama-lamanya. Ditinggalkan oleh salah seorang motivator terbaik dalam hidupku hingga saat ini. seorang kakek yang begitu dekat dengan cucu-cucunya. Bahkan hingga beliau dalam keadaan sakit sekalipun, beliau masih sering menanyakan kabar cucunya ini. seorang kakek yang tidak pernah lepas dari ibadah yaumiyah yang begitu teratur. Bahkan, ketika beliau tergolek lemah di atas ranjang tempat tidur, ketika beliau mendengar azan, pasti beliau ingin sekali melakukan sholat. Begitu pula ketika mendengar orang tadarusan, pasti beliau ingin sekali mengikuti acara tadarusan tersebut. Namun, apa daya raga tidak mengijinkan hal tersebut.

Kecewa karena aku tidak berkunjung ke gresik pada saat aku ke Malang bulan Mei kemarin. Kecewa karena aku hanya bisa bertemu beliau yang terkahir kali, dalam keadaan beliau sudah tidak bersama kita semua. Mungkin inilah yang dinamakan penyesalan, yang selalu datang terakhir. Tidak pernah datang di awal.

Dan bagiku pribadi, kejadian malam senin, 10 Juni 2012, semakin mempertegas rasa kehilangan tersebut. Aku menghilangkan salah satu dokumen penting temanku. Teman yang telah menjadi sahabat selama 4 tahun terakhir. Teman yang pernah satu kamar di asrama selama kurang lebih 1 tahun. Tapi, tahukah kalian apa yang ada dalam benakku saat ini? aku takut. Serius, aku takut. Bukan karena aku takut tidak bisa menganti biaya untuk pengurusannya. Meskipun biayanya besar, aku yakin aku masih bisa mencari biaya tersebut entah dari aku ikut lomba atau yang lainnya. Tapi, yang sangat aku takutkan, bagaimana jika pertemanan atau bahkan persahabatan yang telah terbangun selama ini akan menjadi rusak atau bahkan putus. Aku memang pantas dicap teledor. Karena aku mengakui bahwa tindakanku memang salah. Aku memang pantas untuk disalahkan. Karena aku tahu tidak ada yang benar sama sekali dari kelakuanku ini. namun, aku benar-benar merasa bersalah dan khilaf dan ingin sekali memohon maaf yang sebesar-besarnya. Andaikan aku bisa melakukan sesuatu yang lebih untuk menghadirkan dokumen itu saat ini, pasti akan kulakukan. Namun, apa daya tangan tak sampai. Aku hanya seorang manusia lemah yang tidak memiliki daya untuk melakukan hal tersebut.

Dan inilah rasa kehilangan itu. Ketika kita benar-benar merasa memiliki, baik itu milik kita, maupun milik orang lain, pasti akan merasakan rasa kehilangan itu. Rasa yang tidak akan pernah semanis rasa coklat di lidah, namun aku yakin pasti jauh lebih sakit dibandingkan dengan rasa luka secara fisik. Rasa yang akan menyiksa kita ditengah keheningan malam. Rasa yang akan membuat seseorang merasa lebih baik mati daripada merasakan rasa itu. Dan tahukah kawan, kini aku merasakan hal itu. Seakan-akan, aku ditusuk dari dua sisi sekaligus. Seminggu yang lalu, aku ditinggalkan oleh kakekku, dan kini aku terancam ditinggalkan oleh sahabatku. Ujian yang sangat berat bagiku yang begitu lemah saat ini.

Ya allah, aku memohon kepadamu, jika ini memang ujian yang engkau berikan kepadaku, maka berilah aku kekuatan untuk melewatinya.

Postingan ini aku dedikasikan kepada temanku, M. Andira barmana, yang baru saja ditinggalkan selama-lamanya oleh adiknya yang tercinta, serta Kak Iim, yang juga baru ditinggalkan oleh neneknya. Percayalah, insya Allah, mereka akan diberikan tempat yang tertinggi di akhirat oleh Allah, dan semoga kita dipertemukan kembali dengan mereka di Surga Allah. Serta, temanku yang memiliki dokumen yang aku hilangkan. Aku sungguh benar-benar merasa bersalah dan memohon maaf. Aku siap menerima konsekuensi yang akan diberikan. Namun, aku benar-benar memohon, jangan rusak persahabatan dan pertemanan ini.

Dan terakhir, aku dedikasikan artikel ini untuk keluarga keduaku, Axivic Jogja. Mungkin ini adalah bulan yang berat untuk kita semua. UAS dan tes blok telah menanti. Belum lagi, keberadaan angkatan kita yang bisa dibilang sedikit dipertanyakan. Ditambah dengan kita harus mempersiapkan gathering. Tapi, aku benar-benar memohon kepada kalian semua. Mungkin, aku bukanlah ketua yang baik. Aku tidak sebaik dalam beretorika seperti Andira atau Aziz, aku pun tidak sebijak dan setegar Yofie atau Fuzta. Aku hanyalah seorang yang tidak bisa melakukan apapun tanpa kalian semua. Aku tidak ingin kehilangan keluarga ini. aku tidak ingin ada satu anak pun yang lepas atau hilang dari angkatan ini. karena, kita disini semua adalah satu. Satu keluarga. Dan itu tidak akan pernah lepas untuk selamanya.

Yogyakarta, 11 Juni 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s