It’s that hard to say NO?

Amanah itu jangan dicari, namun apabila kita mendapatkannya kita masih memiliki pilihan untuk menerimanya. Jika merasa mampu, ambillah. Namun, apabila tidak mampu, berikan kepada yang lebih mampu mengembannya. Karena ketahuilah, amanah itu adalah titipanNya. (anonym)

Setiap manusia diciptakan dengan berbagai kelebihan. Hal itulah yang menyebabkan manusia diciptakan sebagai manusia yang paling sempurna dalam kehidupan ini. namun demikian, tidaklah kita sebagai manusia diciptakan sebagai makhluk yang terbaik. Karena, sempurna belum pasti terbaik. Hal tersebut dikarenakan, dalam diri kita juga mengandung kelemahan yang tidak kalah banyak. Atau bahkan jauh lebih banyak. Analogi sederhananya adalah sebagai berikut, untuk seorang pembeli, harga dan rasionalitas dari barang yang dibeli adalah yang utama. Jika ada dua buah, yang satu harganya Rp 1.000.000,00 namun memiliki rasa yang sangat lezat di lidah, dan yang satu lagi buahnya sebenarnya lezat, tapi tidak selezat buah yang pertama namun memiliki harga yang masih masuk akal misalkan Rp 20.000,00. Pembeli tersebut pasti akan memilih yang kedua. Kenapa? Karena meskipun buah yang pertama itu sempurna dalam segi rasa, namun memiliki kelemahan yang tidak kalah fatal. Harganya yang sangat mahal. Seperti itu jugalah manusia. Setiap manusia diciptakan dengan takdirnya sendiri-sendiri. Dan kelebihan serta kekurangan itulah yang membuat manusia itu masih dicap sebagai seorang manusia, bukan sebagai seorang malaikat yang hanya memiliki kesempurnaan.

Dalam realita sehari-hari, tidak semua dari kita mengerti akan makna tersebut. Kita selalu menganggap diri kita sempurna yang mampu melakukan apapun. Pada saat itulah kita lupa. Jika ada satu batasan dalam diri kita untuk melakukan hal-hal tersebut. Batasan yang diciptakan oleh Tuhan untuk membatasi diri kita agar kita tidak bersifat angkuh di hadapan Tuhan. Batasan yang memang diciptakan agar kita masih merasa dalam posisi sebagai hamba dari Tuhan.

Hal tersebut berlaku kepada kita semua tanpa terkecuali. Dari yang kaya hingga yang miskin, dari yang berposisi sebagai pemimpin hingga yang dipimpin, atau bahkan dari yang masih muda hingga yang tua. Sehingga, apabila dikaitkan dengan quote pembuka artikel ini, apabila kita sudah tidak merasa tidak mampu melakukan atau mengemban sebuah amanah dengan baik, mengapa kita harus takut berkata, maaf saya tidak bisa menerima amanah ini. mengapa kita harus takut untuk berkata tidak. Toh, itu tidak dosa. Terlebih lagi, jika ada orang lain yang lebih berkompeten, mengapa tidak kita berikan amanah kita kepada orang tersebut apabila kita sudah tidak mampu. Terkesan tidak bertanggung jawab? Tidak seperti itu tentunya. Kita tidak melemparkan tanggung jawab kita kepada orang lain. Namun, kita melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain, dan kita akan mendapatkan amanah pengganti yang tidak seberat amanah yang kita berikan kepada orang lain tersebut. Amanah dimana kita lebih berkompeten didalamnya. Contoh mudahnya, apabila kita ditunjuk menjadi ketua dan kita tidak mampu mengembannya. Maka, kembalikan amanah tersebut demi kebaikan semuanya, lalu katakan apa amanah yang mampu kita emban pada saat itu. Jika kita tidak mampu sebagai ketua, barangkali kita mampu menjadi staf biasa.

Karena sekali lagi semuanya kembali pada satu hal,amanah itu tidak dicari. Apabila kita justru mencari-cari amanah dan apabila pada satu titik dimana kita tidak mampu mengembannya, kita justru menjadi orang yang khianat akan hal tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s