Kalau tidak sekarang, kapan?

28 Oktober. Adakah yang masih ingat hari apakah itu? Adakah yang masih ingat peristiwa apa yang terjadi pada hari ini berpuluh-puluh tahun yang lalu? Atau kita sekarang benar-benar telah terlupakan dari salah satu peristiwa bersejarah tersebut.

Tepat 84 tahun yang lalu, telah terjadi kongres yang dihadiri oleh perwakilan organisasi pemuda. Dimana pada saat itu telah terjadi pengikraran akan 3 hal pokok pada saat itu. Bangsa, tanah air, dan bahasa persatuan. Tidak ada yang menyangka pula jika 84 tahun yang lalu, lagu kebangsaan kita Indonesia Raya untuk pertama kali diperdengarkan untuk umum meskipun baru dalam versi instrumentalnya (tanpa lirik).

Ya, sebuah ikrar yang dikumandangkan di tengah ancaman nyawa yang melayang. Sebuah ikrar yang dikumandangkan oleh oleh para pemuda-pemudi Indonesia bukan oleh golongan tua pada saat itu. Sebuah ikrar yang semakin menguatkan makna nasionalisme dan rasa kebangsaan sejati di sanubari seluruh masyarakat Indonesia. Serta sebuah ikrar yang semakin menambah rasa optimisme dalam diri seluruh masyarakat Indonesia, jika harapan akan kemerdekaan selalu ada.

Dan sekarang pertanyaannya, apakah semangat dari peristiwa itu masih menjalar dari sanubari kita sebagai pemuda-pemudi Indonesia? Apakah dalam diri kita masih muncul rasa optimisme akan bangsa ini? apakah dalam hati kita masih ada rasa kebanggaan yang kuat akan negeri ini? 3 pertanyaan yang cukup untuk mengetuk nurani kita sebagai generasi muda penerus bangsa ini.

Ir. Sukarno pernah berkata, beri aku satu pemuda, maka akan aku goncangkan dunia ini. hal tersebut mungkin sudah cukup sebagai bukti betapa besar peran dari generasi muda dalam membangun bangsanya. Sebagaimana yang telah ditulis dalam artikel-artikel sebelumnya, kontribusi yang dapat diberikan dapat dimulai dari hal-hal kecil. Karena, segala hal besar pasti dimulai dari hal yang kecil. Serta, tetaplah fokus untuk selalu berkontribusi dalam bidangnya masing-masing. Yang sedang mempuh pendidikan menjadi dokter, jadilah dokter yang peduli terhadap pasiennya tanpa memandang derajat pasiennya. Yang sedang menempuh pendidikan teknik, jadilah seorang engineer yang dapat membangun negeri ini dengan segala kelebihannya namun tetap memperhatikan aspek sosial. Yang sedang menempuh pendidikan menjadi seorang ekonom, jadilah ekonom yang mampu meningkatkan sektor makro maupun mikro namun dengan cara-cara yang bermartabat. Serta di bidang-bidang lain yang tidak mampu saya sebutkan, tetaplah diniatkan untuk membangun Indonesia. Namun, yang terpenting adalah selaraskan tujuan yang berbasiskan iptek tersebut dengan imtaq yang kuat pula. Karena, iptek dan imtaq adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan.

Sehingga, terlepas dari apapun masalah yang dihadapi oleh negeri ini, sudah menjadi sebuah kewajiban bagi diri kita untuk selalu bangga akan negeri ini. dan momen hari sumpah pemuda ini adalah momen yang tepat untuk memulainya. Memulai membangun kembali jiwa optimisme, nasionalisme, dan rasa kebanggaan atas negeri kita tercinta. Kalau tidak kita mulai dari sekarang, lalu kapan?

Indonesia kobarkan semangatmu
Kan kubela sampai habis nafasku
Jangan pernah menyerah
Sudah terlalu lama kita terlelap
Bangkit dan raih semua mimpi

Indonesia kobarkan semangatmu
Kan kubela sampai habis nafasku
Jangan pernah menyerah
Sudah terlalu lama kita terlelap
Merah putihku selalu di hati

(Pee Wee Gaskins – Dari Mata Sang Garuda)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s