Brebes in 10 days (part 1)

Akhirnya perjalanan surveyor road map Brebes selesai juga. Menurut gue, ini adalah salah satu perjalanan paling berat gue. Ibarat kalau kata ninja hattori, mendaki gunung melewati lembah. Dari daerah yang bisa dibilang “rendah” karena kedudukannya dekat dengan pantai, hingga yang “tinggi” banget karena udah di deket gunung slamet. Dari yang jalannya mulus kayak di perkotaan, sampai yang jalannya “full of rock”. Dan alhamdulillah sudah berhasil terlewati hal tersebut dengan cukup sukses.
Hari-hari awal gue melakukan survey ini, bisa dibilang sangat berat. Selain karena medannya yang cukup menantang, juga karena kondisi badan yang sangat tidak fit. Hari pertama pun hanya diisi dengan perjalanan dari kota brebes menuju ke kecamatan salem. Menurut beberapa orang yang udah gue temuin, salem adalah kecamatan yang paling “ekstrim” di brebes. Semua hal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang crosser handal ada disini. Hahaha.#lebay. Tapi seriusan lho, medannya emang termasuk yang paling berat yang gue temuin. Perjalanan menuju salem ini ditempuh hampir 4 jam.
Begitu sampai salem, waktu sudah menunjukkan pukul 15. 00. Langsung saja kami bersepuluh menuju ke kecamatan salem. Setelah bernegosiasi sebentar, akhirnya kami mendapatkan tempat penginapan juga untuk tidur. Setelah kita menaruh barang sebentar, survey pun langsung dimulai. Mengingat waktu yang sudah sore, survey pun hanya dilakukan untuk satu desa saja. And luckily, kita bertemu dengan salah satu alumni teknik fisika UGM, kak hanif. Segala keperluan utamanya mengenai hal-hal yang harus kita ketahui, seperti peta kecamatan dan data-data lain yang mendukung, akhirnya kita dapatkan di kak hanif. Ditambah pada malam harinya, kita ditraktir makan oleh beliau. Penghematan uang saku. Hehehe.
Setelah selesai di salem, kita melanjutkan perjalanan ke kecamatan bantarkawung. Perkiraan kita jika salem adalah kecamatan paling berat sedikit meleset. Karena ternyata di bantarkawung pun nasibnya juga sama. Medannya berat. Bahkan, salah satu desa harus ditempuh melewati sungai. Selain itu, juga ada desa yang posisinya sangat terpencil. Menuju ke lokasi saja sangat sulit. Jalanan yang sama sekali tidak beraspal namun hanya diisi dengan batu-batu besar yang menyulitkan motor bebek untuk melewatinya. Bahkan, ketika gue dan tim kesana dengan diantar salah satu petinggi dusun disana dengan menggunakan motor trail membutuhkan waktu hingga 30 menit. Setelah selesai, kami pun segera menuju ke bumiayu untuk menginap disana.
Bumiayu ibarat sebuah oase di tengah gurun pasir. Ya, karena bumiayu terlihat begitu wah dibandingkan dengan kecamatan di sekitarnya. Meskipun 2 pernyataan di atas agak sedikit lebay sih. Tapi, ketika 3 hari berkutat di pedalaman, yang di kanan dan kirinya hanya terlihat sawah tentunya akan terasa pernyataan di atas. Bumiayu sendiri terletak di tengah-tengah pulau jawa. Kasarnya sih, bumiayu terletak diantara brebes dan purwokerto. Dan di bumiayu jugalah kita ketemu lagi dengan alumni UGM. Kali ini dari alumni teti, kak pundi. Dan asyiknya, kita ditraktir makan ama kak pundi di ayam goreng palasan. Salah satu warung terkenal di bumiayu. Katanya kak pundi sih, setiap ada tamu PLN selalu pingin makan disitu. Oh iya, kak pundi bekerja di PLN UPJ bumiayu. Di bumiayu, kita nginep di salah satu penginapan disana.
Paginya, kita lanjut lagi. Kali ini, kita menyisir beberapa dusun di bumiayu. Dan ternyata, ada dusun yang jalan buat kesananya aja udah kacau banget. Walhasil, kita menyelesaikan yang gampang-gampang dulu. Gak terlalu berbeda jauh sih, jalanan rusak tetap membayangi perjalanan kita. Tapi dengan level tanah yang lebih datar.
Setelah beristirahat semalam, paginya kita lanjut ke tonjong. Nothing special about this village. Tapi, ada salah satu dusun yang keadaannya memprihatinkan banget. Akses jalan ke dusun yang berupa jembatan sudah putus. Listrik harus diambil dari gardu yang jaraknya sangat jauh dan dialiri melewati kabel yang tidak standar dan hanya ditopang dengan kayu saja. Bisa dibilang kalau dusun itu sedikit banyak terisolir. Dan ironisnya, pembangunan jembatan yang tengah dikerjakan baru dilaksanakan oleh pemerintah daerah tersebut saat mendekati masa-masa pilkada.
Perjalanan pulang dari tonjong ke bumiayu pun diwarnai oleh hujan yang sangat deras. Sore harinya, tim kami yang perempuan dipersilahkan untuk pulang terlebih dahulu menggunakan bis. Mengingat kepulangan tim yang masih belum pasti. Apalagi, pengiriman motor dari brebes yang juga masih tanda tanya. Sebelumnya, salah satu anggota tim juga ada yang kembali ke jogja lebih awal dikarenakan ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan.
dan sesuatu terjadi di telepon pada pagi harinya. Jreng.. jreng.. truk yang akan mengirim motor ke jogja “ngambek”. Mereka tidak ingin mendatangi tiap kota satu per satu. Mereka Cuma mau menunggu di tempat yang mereka inginkan, dan kita mendatangi tempatnya untuk menyerahkan motor tersebut. Ribet kan? Emang ribet. Alternatif lain adlaah menggunakan jasa ekspedisi. Dan ternyata, selain biayanya yang cukup menguras kantong, waktu tempuh pengirimannya juga lama. Dan akhirnya, kami semua sepakat mengambil jalan tengah. Motor tidak jadi dikirim via truk. Kita akan mengendarainya sendiri sampai brebes. Nekat? Sedikit sih. Tapi gak ada jalan lain buat itu. Dan akhirnya memang itu yang akhirnya benar-benar diambil. Berangkat jam 11.00 siang dari bumi ayu, kita sampai Jogja jam 20.00. …. (continue to part 2)

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s