Little Deep

Entah kenapa gue bukan orang yang suka buka-bukaan secara langsung. Seakan-akan ada sesuatu penghalang pas gue mau ngomong sesuatu. Itulah kenapa pas deep intro PH beberapa hari yang lalu, gue seakan-akan seperti menutupi sesuatu dan semuanya terlihat sangat datar dan seakan-akan gak ada sesuatu yang spesial yang terjadi. Gue sendiri lebih suka menceritakan apapun tentang gue via tulisan. Itu membuat gue lebih dapat mengontrol apa yang bakal gue ceritakan dan gue sendiri pun akan lebih nyaman akan hal ini. tertutup? Memang. Tapi itulah gue.

Gue sendiri akan mencoba untuk lebih menjelaskan beberapa hal disini. Gue mengakui kalau gue enggak memiliki cerita se-“puk-puk” si A, atau enggak punya cerita se-“brengsek” si B. Ya, sedikit banyak lingkungan gue menahan gue untuk melakukan itu semua. Kenapa bisa begitu? Gak bisa dipungkiri, hampir 12 tahun berada di lingkungan sekolah Islam (gue SD di SDI, SMP di MTs, dan SMA di MAN) membuat lingkungan gue agak dibatasi untuk masalah itu. Belum lagi ditambah dengan gue hampir selalu berada di kelas yang “kompetitif” yang mau gak mau gue pun dipaksa untuk kompetitif pula di bidang akademik. Boro-boro mikirin begituan, mikir pelajaran aja sudah susah. Haha

Emang gak ada yang spesial sama sekali? Entah kenapa seakan-akan semesta mempertemukan gue dengannya tapi semesta pula yang menjauhkan gue dengannya. Lebay? That’s the fact. Ketika semesta mempertemukan gue dengan si P di sebuah acara extern sekolah, seakan-akan itu mustahil banget buat gue untuk bisa mengenal lebih jauh. Sekolah gue yang di asrama plus terbatasnya akses keluar dan ditambah gue sendiri lupa namanya pas kita terakhir ketemu. Dan ternyata, gue bisa kenal lebih jauh dengannya. Dan seiring berjalannya waktu, semesta pula yang menjauhkan gue dengannya. Entah gue yang salah atau dia, lama kelamaan gue dan dia pun lost contact. Ketika dia udah ketemu ama cowoknya yang baru, gue pun masih tetap kayak gini. Begitu pula ketika gue deket ama si L beberapa tahun yang lalu. Meskipun gue masih sering kontak-kontakan sama dia, tapi sepertinya semesta masih belum terlalu mendukung.

Dan menurut gue sendiri, gue masih suka dengan keadaan gue sekarang. Keadaan dimana gue bisa bebas melakukan sesuatu yang tidak dibatasi oleh orang lain. Ketika gue bisa dekat dengan semua orang tanpa harus khawatir ada yang cemburu. Dan ketika gue gak harus mengeluarkan sesuatu ketika ada event tertentu (misal ngasih kado atau hal yang lain). Karena sampai detik gue menulis ini, masih ada sesuatu yang harus gue kejar. Seperti gue harus lulus cepat, tetap bisa mencapai obsesi gue menjadi designer f1, dan masih banyak lagi

Kalau ditanya apa gak ada yang lagi deket pas kuliah? Gue sedikit banyak bingung ama pertanyaanitu. Deketnya dalam konteks apa dulu nih. Kalau dalam konteks itu, gue jawab aja ada sih. Tapi ya biasa aja. Gak ada yang spesial. Dengan keadaan gue kuliah dari pagi sampai sore atau bahkan sampai malam, ditambah kegiatan yang ribet banget pasca kuliah, kepikiran untuk masalah itu aja enggak sama sekali. Ya, gue sih welcome-welcome aja. Namun, karena entah kenapa gue selalu terhalang oleh standar yang gue buat sendiri. misalnya ceweknya harus begini, harus begitu, dll. Dan entah kenapa sampai sekarang belum ada yang menyamai standar itu. Kalau kata temen gue, kita akan dibatasi oleh seseorang yang pernah dekat dengan kita. Dalam kata lain, dia akan selalu menjadi patokan lo dalam “move-on”. Dibilang susah move in ya enggak juga sih. Tapi ya itu tadi, seorang P telah menjadi standar dalam nyari cewek. Apakah ada yang lebih baik, lebih cantik, atau yang lainnya, pasti akan selalu dikomparasikan dengan dia. That’s make all become difficult. Dan satu lagi, gue lebih seneng orang yang jadi dirinya sendiri. daripada lo harus berubah jadi orang lain ketika lo harus deket dengan orang tersebut. Ya, buat apa kan kalo gitu.

And in the end, biarkan semuanya mengalir sesuai apa yang gue inginkan. Kalau tiba-tiba di aliran tersebut ada bunga dan buah yang jatuh tentu akan semakin memperindah aliran tersebut.

It’s hard to say goodbye
And leave a part of me
These walls will hold so many memories
Underneath my smile
Holding back a scream
Packing up a box of broken dreams
(a thousand words – hoobastank)

2 Comments

  1. haha, kalian tuh, hidup kan ga cuma berkisar di hal itu ajaa
    yang membuat hidup indah selain itu banyaaaak
    masih ada keluarga, sahabat, dan lainnya

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s