Demam UKT

Beberapa minggu belakangan ini, isu kampus utamanya tentang UKT begitu ramai dibicarakan. Bahkan, pada hari Sabtu,6 April 2013 pun masalah UKT ini begitu ramai diperbicangkan di dunia maya, tepatnya di lini masa jejaring sosial Twitter. Tapi, sebenarnya apa sih UKT itu? Kenapa banyak orang ramai membicarakannya? dan apa pengaruhnya untuk kita? Gue coba membahas ini menggunakan perspektif gue pribadi. (ini bukan atas nama lembaga lho)

Secara singkat, UKT itu adalah kepanjangan dari uang kuliah tunggal. Yang mana dengan adanya kebijakan ini, kita tidak usah membayar uang pangkal pada awal jenjang perkuliahan. Tapi, kebijakan ini bukan buat kita lho. Tapi buat maba angkatan 2013. Terus bedanya sama kebijakan sebelumnya apa? Yang pasti udah gak ada lagi yang namanya uang pangkal. Terus sekarang pembayarannya bukan lagi didasarkan pada jumlah SKS yang diambil. Tapi akan dipukul rata dengan menggunakan SKS maksimal sebagai patokannya. Jadi, mau kita cuma ambil 10 sks, yang harus kita bayarkan tetap 24 SKS. Secara makro yang mungkin dirasakan secara langsung oleh mahasiswa ya Cuma itu bedanya. Meskipun secara mikro, baik yang dirasakan oleh mahasiswa dan pihak universitas, kebijakan ini akan berefek lebih mendalam.

Satu masalah utama yang dipermasalahkan adalah meningkatnya beban yang harus dibayar oleh mahasiswa. Kok bisa? Padahal kan udah gak ada uang pangkal lagi. Salah satu penyebabnya adalah dengan tidak adanya uang pangkal di awal, maka uang pangkal yang seharusnya dibayar di awal akan dilebur kedalam pembayaran yang dilakukan tiap semesternya. Atau dalam kata lain, uang pangkalnya itu dicicil dan dimasukkan di tagihan yang dibayarkan setiap semester berbarengan dengan pembayaran uang SKS. Konsep awalnya dapat dikatakan sangat baik. tentunya untuk pihak orang tua, akan sangat meringankan karena tidak harus membayarkan uang yang begitu besar di awal. namun, permasalahan muncul ketika patokan asumsi uang pangkal yang harus dibayarkan adalah uang pangkal maksimal (uang pangkal paling mahal). Ya dapat dipastikan kalau jumlah yang harus dibayarkan akan menjadi mahal banget dibandingkan dengan sistem yang digunakan saat ini.

Bukan cuma di sisi mahasiswa. Di sisi universitas sebagai pengelola perkuliahan pun, kebijakan ini sudah membuat pusing para petingginya. Gimana enggak, dengan adanya kebijakan ini, pemasukan di awal perkuliahan akan jauh berkurang dibandingkan sebelumnya. Simpelnya, kalau sebelumnya pihak universitas akan menerima pemasukan dari uang pangkal, sekarang mereka udah gak dapat secara utuh di awal. ya itu tadi, karena uang pangkalnya dibayarkan secara berjenjang setiap periode tertentu. Bahkan, buruk-buruknya adalah pihak universitas akan terhambat segala pembangunannya selama 4 tahun kedepan.

Kalau disimpulin, ada beberapa masalah kalau kebijakan ini jadi dijalankan, diantaranya:
1. Biaya persemester akan meningkat jauh.
2. Ada permasalahan ketika mahasiswa lulus tidak sesuai target. Bisa lebih dari 4 tahun atau malah kurang dari 4 tahun. Mengapa menjadi masalah? Karena sistem UKT menggunakan asumsi seluruh mahasiswa akan lulus tepat 4 tahun, tidak kurang tidak lebih.
3. Pihak universitas akan terhambat dalam permasalahan administratif keuangan.

jadi, apakah UKT itu bagus? Untuk beberapa universitas yang sebelumnya sudah tidak menggunakan sistem SKS, sistem ini justru akan semakin enak. Karena biayanya akan lebih murah atau minimal sama dengan sistem sebelumnya. Namun, untuk UGM yang selama ini masih menggunakan sistem tradisional alias SKS, akan terlihat peningkatan yang signifikan. Meskipun untuk masalah biaya mahal, pihak universitas sudah menyiapkan beberapa cara. Dimana salah satunya adalah dengan pemberian beasiswa ABCD. namun tidak dapat dipungkiri jika metode itu tidak sepenuhnya adil. Kok bisa? Setau gue, beasiswa ABCD itu terbagi dalam beasiswa A yang diberikan dengan sistem uang kuliahnya gratis dan dibayarkan oleh pihak universitas, beasiswa B yang merupakan beasiswa bidik misi, beasiswa C yang merupakan pemberian subsidi 50%, dan beasiswa D yang merupakan pemberian subsidi 30%. Dan limit untuk beasiswa tersebut adalah 5 juta rupiah (penghasilan orang tuanya). Menurut gue, bagaimana kalau yang penghasilannya 5 juta lebih 100 ribu aja. Kalau menurut ketentuan, maka ia seharusnya membayar uang kuliah full tanpa potongan subsidi. Tapi, apakah itu adil? Cuma beda 100 ribu doang lho tapi udha beda jauh apa yang harus dibayarkan. Belum lagi masalah tanggungan hidup. Menurut sistem itu, parameter yang digunakan Cuma gaji orang tua dan tidak memperhitungkan masalah tanggungan hidupnya. Masih banyak kekurangan dalam solusi ini.

jadi, apakah harus kembali ke kebijakan awal dengan menerapkan uang pangkal dan menggunakan sistem SKS? Nah, perlu dikaji juga disini. Apakah sistem yang digunakan saat ini memang lebih baik atau justru sama saja dengan kebijakan UKT. Kalau dibilang adil, ya enggak juga. Sekali lagi pada masalah penentuan uang pangkal yang diambil, Cuma menggunakan parameter gaji. Cuma itu? Ada satu lagi. Pemukul rataan masalah pembayaran BOP. Ya kalau mau frontal sih, orang yang kaya sampai orang yang enggak mampu bayar sksnya juga sama. Apakah itu adil? padahal kampus sekarang bisa dibilang udah kayak showroom mobil ama motor. Tapi apakah yang udah bawa kendaraan mewah itu bayarnya beda sama teman-teman yang kurang mampu?

dan akhirnya, ketika kita menolak UKT karena memang itu gak pro rakyat dan akan kembali ke sistem awal (baca:sistem sks) apakah nantinya yang mampu mau jika harus membayar lebih mahal baik uang pangkal maupun biaya sks jika memang mampu? sebuah pertanyaan yang gak perlu dijawab sekarang.

Sekali lagi, ini hanya opini pribadi gue. Ya kalau ada orang yang berpendapat beda, ya monggo. Kan semua pribadi bebas berpendapat😀.

2 Comments

  1. jadi, apakah UKT itu bagus? Untuk saya yang menyekolah dua anak tidak bagus, karena hanya diberi kesempatan kuliah untuk satu anak dengan UKT sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarga. katanya satu anak lagi harus dikorbankan dan itu merupakan resiko keluarga. Sementara kalau tidak ada UKT bisa memilih PTN dengan SPP sesuai dengan kemampuan ekonomi untuk dua anak

    Reply

    1. ya sekali lagi itu relatif. tapi untuk ketentuan hanya 1 yang boleh ptn, setau saya tidak ada ketentuan seperti itu dalam aturan ukt. beberapa adik kelas saya yang sudah mengalami ukt juga ada yang punya adik di ptn yang mengalami ukt

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s