Selftalk

Beberapa hari ini di berbagai media massa ramai atau bahkan heboh tentang demonstrasi kenaikan harga BBM. Terlepas pro dan kontra akan hal itu, meskipun gue sendiri termasuk yang pro akan kenaikan harga BBM itu (artikelnya bisa dibaca di blog ini juga), ada banyak hal menarik atau bahkan jauh lebih menarik dibandingkan kenaikan harga BBM itu untuk ditilik lebih jauh. Ya utamanya yang berkaitan dengan diri kita sebagai seorang mahasiswa.

Seorang mahasiswa itu harusnya identik dengan sesuatu yang berbau intelektual. Jelas, karena asal katanya aja dari siswa yang bermakna seseorang yang tengah belajar atau menuntut ilmu. Ditambah dengan maha berarti seseorang yang sudah derajatnya lebih tinggi dari seorang siswa. Kalau dianalogiin di komik naruto, siswa itu genin mahasiswa itu chunin. Sudah sewajarnya kan kalau apa yang kita lakuin itu bernafaskan sesuatu yang keilmuan. Jadi, kalo apa yang kita lakuin gak berbau keilmuan, apakah masih pantas kita disebut mahasiswa? Ketika kita nyontek dan titip absen, apakah kita masih melakukan hal-hal yang bernafaskan keilmuan? Apakah kita masih pantas disebut mahasiswa kalau begitu yang rela melakukan itu semua demi tertulisnya huruf A di portal akademik? Segitu rendah kah diri kita melakukan itu hanya untuk nilai A? ngelesnya sih, kan itu untuk nyenengin orang tua juga, masak gak boleh? Orang tua pun pastinya bakalan sangat sedih kalau nilai 4,00 diperoleh dengan cara sehina itu.

Mahasiswa pun katanya identik dengan yang namanya pro rakyat. Berarti apa yang kita bawa harus menolong rakyat dong kalau begitu. Ketika kita turun aksi namun yang terjadi malah anarkis, apakah itu masih dapat dikategorikan menolong rakyat? Atau ketika kita aksi lalu menutup jalan dengan membakar ban (gak ada ikan untuk dibakar, maka ban pun jadi :p), bukankah itu malah mengganggu perjalanan dan kenyamanan masyarakat untuk menggunakan fasilitas umum? Atau ketika kita menolak kenaikan harga BBM bersubsidi, apakah kita masih menggunakan BBM bersubsidi? Apakah ketika perjalanan menuju ke tempat aksi tersebut, kendaraannya masih menggunakan premium atau solar bersubsidi? Ya, sangat disayangkan kalau itu masih terjadi. Ngelesnya sih, mahasiswa kan belum punya penghasilan buat beli bensin atau solar, jadinya masuk kategori gak mampu dong. Nah, coba dipikirin lagi. Masih lebih gak mampu mana mahasiswa dengan saudara-saudara kita yang tinggal di  kolong jembatan, atau di pedalaman yang sangat terpencil. Masih mending kita bukan, kita masih bisa hidup di kota, makan dengan enak, dan masih bisa menikmati hal-hal yang belum tentu dapat mereka nikmati. Jadi, apakah mahasiswa masih terkategorikan belum mampu?

Ya, mungkin penulis sendiri masih merasakan itu semua. Yuk, kita sama-sama berubah jadi seorang mahasiswa yang sesungguhnya. Mahasiswa yang pantas untuk menjadi penerus bangsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s