Membedah Mode Transportasi di Indonesia

Indonesia adalah salah satu negara dengan luas terbesar di dunia. Dengan luas sebesar 1,904,569 km2 dengan jarak antar kota di Indonesia yang terpisahkan cukup jauh, menyebabkan masyarakatnya dituntut untuk selalu mobile[1]. Apalagi ditunjang dengan fakta bahwa pertumbuhan dan kemajuan antar kota yang tidak merata. Hal tersebut semakin memperkuat kebutuhan mobilisasi penduduk menuju kota dengan tingkat kemajuan yang lebih baik.

Dengan tingginya mobilisasi penduduk di Indonesia, menyebabkan kebutuhan sarana dan prasarana pendukung sangat dibutuhkan. Dalam hal ini utamanya adalah sarana transportasi masal yang dipergunakan. Dengan mempertimbangkan faktor jarak dan kondisi geografis di Indonesia, maka 3 ranah transportasi (transportasi darat, air, dan udara) akan menjadi tulang punggung dari mobilisasi penduduk.  Dan karena tingkat kebutuhan akan transportasi tersebut tinggi, menyebabkan transportasi dapat menjadi ladang uang yang menggiurkan bagi siapapun yang ikut serta didalamnya.

Transportasi air mutlak dibutuhkan mengingat kondisi negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Jalur antar pulau yang terpisahkan laut maupun selat, berusaha dihubungkan dengan kapal laut. Tak peduli yang diangkut itu penumpang manusia ataupun barang, semuanya berusaha diangkut oleh kapal laut. Pengaturan angkutan laut di Indonesia dilakukan oleh Pelni. Meskipun didalamnya juga ada perusahan swasta yang juga menjalankan bisnis transportasi ini. [2]

Meskipun pada beberapa tahun ini transportasi udara telah berkembang pesat, hal tersebut tidak membuat mode transportasi ini mati. Mengingat, banyak rute dari kapal laut yang tidak ter-cover oleh mode transportasi udara. Selain itu, pertimbangan harga juga membuat mode ini masih terus beroperasi hingga saat ini. Hal ini nampak ketika musim lebaran telah tiba. Pada tahun 2013 diperkirakan jumlah pemudik yang menggunakan kapal laut sebanyak 1.664.832 orang[3]. Bahkan pihak Pelni pun harus menambah armada tambahan dengan menggunakan kapal laut milik angkatan laut TNI. [4]

Namun, meskipun mode transportasi ini masih tetap beroperasi hingga saat ini, armada yang dipergunakan umumnya masih menggunakan armada berusia lanjut. Akibatnya adalah seringnya terjadi insiden kecelakaan. Meskipun akhir-akhir ini jarang terjadi kecelakaan, pada tahun 2002-2012 telah terjadi kecelakaan yang melibatkan mode transportasi ini sebanyak 19 kali dan menyebabkan korban jiwa sebanyak 686 orang[5]. Selain kondisi armada, hal lain yang patut diamati adalah mengenai faktor alat keselamatan dalam kapal yang sering kali kurang dari yang dibutuhkan. Hal itu pulalah yang menyebabkan korban jiwa selalu ada jika terjadi insiden kecelakaan.

Kurangnya kompetisi antar operator kapal membuat perkembangan mode transportasi ini cukup lambat. Bandingkan dengan mode transportasi lain, perkembangan mode transportasi air dapat dikatakan cukup memprihatinkan. Peremajaan kapal yang jarang dilakukan adalah salah satu permasalahan yang terjadi akibat minimnya kompetisi antar operator transportasi.[6]

Beralih ke transportasi udara. Mode tranportasi ini memiliki perkembangan paling cepat dibandingkan dengan mode transportasi air maupun darat. Seiring semakin majunya teknologi penerbangan, pertumbuhan maskapai di Indonesia pun turut meningkat. Tercatat hingga saat ini terdapat 49 maskapai yang aktif beroperasi di Indonesia. Baik yang beroperasi untuk kapasitas lebih dari 30 penumpang maupun yang kurang dari 30 penumpang. Jumlah tersebut belum termasuk 39 pesawat cargo.[7] Akibat banyaknya maskapai tersebut, semakin banyak kawasan di Indonesia yang telah terhubungkan oleh pesawat udara.

Dibalik kemajuan perkembangan transportasi udara, permasalahan yang ada pun juga cukup banyak. Utamanya terkait infrastruktur pendukung transportasi udara, kelayakan operasi pesawat, hingga masalah yang terkait langsung dengan penumpang. Terkait masalah infrastruktur pendukung, hingga saat ini, mayoritas bandara di Indonesia tidak mampu menampung penumpang yang ada. Untuk daerah operasional PT Angkasa Pura II, Tercatat hanya bandara Kuala Namu di Medan, Sultan Iskandar Muda di Aceh, dan Halim Perdanakusumah di Jakarta yang masih memiliki kapasitas lebih dalam menampung penumpang yang ada. Bahkan, bandar udara Soekarno Hatta pun juga tidak mampu menampung penumpang yang ada[8]. Akibatnya, tingkat kenyamanan yang dirasakan oleh penumpang pun berkurang. Apalagi untuk bandara skala internasional, tentunya akan memberikan citra buruk bagi dunia internasional jika pelayanannya buruk. Mengingat bandara dapat dikatakan sebagai gerbang masuk wisatawan internasional.

Berkaitan dengan kelayakan operasi pesawat, umumnya dikaitkan dengan kualitas armada pesawat yang digunakan. Meskipun beberapa bulan terakhir dunia penerbangan sempat dihebohkan dengan pembelian 234 pesawat baru oleh salah satu maskapai Indonesia dari produsesn pesawat terkemuka[9], masih banyak maskapai di Indonesia yang menggunakan pesawat dengan usia lanjut[10]. Bahkan, beberapa kali tercatat insiden pesawat yang diakibatkan oleh kerusakan komponen pesawat itu sendiri. Selain permasalahan komponen, faktor lain yang tidak dapat diabaikan adalah faktor kesalahan manusia (human error) yang beberapa kali masih terjadi.

Seiring semakin banyaknya maskapai pesawat, maka dibuatlah UU yang mengatur operasional maskapai yaitu UU no. 1 tahun 2009 tentang penerbangan[11]. Utamanya UU ini dibuat untuk melindungi hak dari penumpang serta sebagai quality control bagi maskapai itu sendiri. Tanpa adanya UU ini dikhawatirkan jika maskapai akan bersikap seenaknya kepada penumpangnya jika terjadi suatu permasalahan tertentu, misalnya saja terkait keterlambatan armada pesawat. Mengenai masalah keterlambatan itu sendiri saat ini telah diatur lebih rinci lagi pada Peraturan Menteri Perhubungan No. 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara (“Permenhub 77/2011”) dan Pasal 36 Peraturan Menteri Perhubungan No. 25 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara (“Permenhub 25/2008”)[12]

Terakhir adalah mode transportasi darat. Mode transportasi ini sangat dekat dan paling sering dipergunakan oleh masyarakat. Ada dua komponen utama dalam mode transportasi ini. Yaitu kereta api dan bus. PT KAI selaku operator utama pelayanan kereta api telah mengalami perubahan signifikan setelah pergantian direktur utamanya. Tercatat beberapa rute kereta api yang sebelumnya mati kembali dihidupkan, seperti rute KA Sukabumi-Bogor[13]. Selain itu, fasilitas dalam kereta api pun semakin membaik saat ini. Tidak nampak lagi pemandangan tidak manusiawi pada pengguna KA kelas ekonomi. bahkan untuk kelas ekonomi saat ini telah dipasang AC split serta tidak ada lagi tiket tanpa tempat duduk. Dan salah satu terobosan yang dilakukan adalah diberlakukannya sistem online dalam pembelian tiketnya. Hal ini secara signifikan mampu mengurangi peran calo yang selama ini cukup meresahkan.[14]

Tidak ada gading yang tak retak. Hal itu juga berlaku untuk kereta api di Indonesia. Beberapa kebijakan yang diambil pun cukup kontroversial. Diantaranya merubah jadwal KA yang masih mendapatkan PSO (public service obligation). Sebagai contoh, jika sebelumnya KA ekonomi Bengawan berangkat malam hari dari dan tiba pagi hari di Solo, namun saat ini dirubah menjadi berangkat dari Jakarta siang hari dan tiba tengah malam di Yogyakarta[15]. Kebijakan ini banyak dikeluhkan karena tidak menguntungkan bagi para pekerja serta dianggap sebagai bentuk pengusiran secara halus untuk pindah ke KA yang tidak bersubsidi. Selain itu, wacana double track di pulau Jawa yang diharapkan selesai akhir tahun 2013[16], hingga saat ini tidak tampak terealisasi. Bahkan beberapa daerah masih terkendala dalam pembebasan lahan[17].

Komponen lain di transportasi darat adalah bus. Hampir seluruh kota di Indonesia dapat dihubungkan oleh bus. Hal itu menyebabkan armada ini termasuk yang paling sering digunakan oleh masyarakat selain tentunya kereta api. Fakta tersebut menyebabkan banyak perusahaan otobus yang berperan dalam mode ini. Akibatnya, dalam satu trayek terkadang dilayani oleh beberapa perusahaan otobus. Perusahaan otobus milik negara pun juga ikut serta dalam transportasi ini melalui Damri. Banyaknya perusahaan otobus tersebut membuat mereka saling bersaing memberikan fasilitas yang terbaik kepada penumpang. Bus-bus dengan mesin-mesin baru seharga ratusan juta rupiah didatangkan[18]. Mesin-mesin tersebut diberikan badan bus oleh karoseri-karoseri terpilih. Karoseri di Indonesia pun cukup diakui di dunia. Salah satu karoseri bahkan mampu meng-ekspor body bis buatannya hingga ke luar negeri[19].

Dibalik itu semua, sebenarnya masih banyak masalah yang terjadi dalam mode transportasi ini. Utamanya terkait sarana prasarananya. Kondisi jalan yang seringkali rusak seringkali menghambat perjalanan bus. Hal itu nampak utamanya menjelang lebaran yang mana seringkali terjadi perbaikan jalan yang menyebabkan terjadinya kemacetan. Potensi kerugian yang diterima oleh pihak otobus pun dapat meningkat akibat biaya solar yang terbuang sia-sia[20]. Serta dari sisi penumpang pun akan dirugikan oleh waktu yang terbuang sia-sia. Selain itu, meskipun banyak armada bus yang baru, namun masih banyak armada bus yang tak layak jalan beroperasi. Entah itu karena tidak pernah uji kir, perawatan yang kurang diperhatikan, atau kondisi dari supir bus itu sendiri yang sejatinya tidak layak untuk mengemudi. Akibatnya, jumlah kecelakaan yang melibatkan bus seringkali terjadi dan menyebabkan korban jiwa yang tidak sedikit.

Dari paparan di atas, terlihat jika masih banyak permasalahan yang harus segera diselesaikan. Utamanya terkait operasional transportasi itu sendiri. Karena, transportasi merupakan sarana terpenting untuk mobilisasi penduduk di Indonesia. Yang mana ketika terjadi permasalahan di bidang transportasi, hal itu akan merambah hingga permasalahan ekonomi. Harapannya, semoga dunia transportasi Indonesia akan semakin baik kedepannya dan mampu menopang segala sendi kehidupan masyarakat Indonesia.


[1] Id.wikipedia.org/wiki/indonesia

One Comment

  1. Senang bisa diberi kesempatan untuk berkomentar disini. Semoga Webportal ini menjadi yang terdepan dalam berkarya. Menciptakan perubahan khususnya bagi masyarakat dan Bangsa Indonesia.
    salam Hangat dari Kami kayu Balsa

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s