Paradigma Baru

Ada yang tau mengenai kultum atau kuliah tujuh menit? Atau ada yang tau mengenai khutbah? Tentu pasti semua umat muslim mengetahuinya kan. Lalu apa sebenernya esensi keduanya? Sepemahaman gue, keduanya sama-sama menyajikan informasi yang bermanfaat kepada jamaah yang mendengarkan. Sepemahaman gue sih, kalo ada yang salah tolong dikoreksi yak. Heheh. Jika khutbah tentu dengan syarat-syarat tertentu yang harus dilakukan, seperti membaca sholawat, syahadat, mengajak bertaqwa, membaca ayat Quran, dll. Sementara kultum lebih bebas karena tidak terikat syarat-syarat seperti khutbah.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah isi kultum atau khutbah tersebut harus melulu soal itu-itu aja. Ketika gue sempet memberikan kultum atau kalo disana sih nyebutnya pelatihan/simulasi khutbah, gue menyampaikan mengenai dampak asean community kepada Indonesia pada umumnya, dan kepada umat islam pada khususnya. Audiensnya pada saat itu adalah mahasiswa. Dan tau kah apa yang mereka komen? Seharusnya isinya harus lebih merakyat, tidak terlalu akademis, dan berbau islami lebih kental. Oh god, please. Karena pada saat itu gue gak bisa melakukan bantahan, yaudah gue terima aja. Padahal masih banyak opini yang pingin gue lontarkan terkait komentar tersebut. Sehingga, gue tulislah disini. haha

Yang pertama, tentunya apabila kita berbicara tentang pidato baik untuk orasi, kultum, khutbah, atau lain sebagainya, yang harus diperhatikan pertama adalah audiens. Siapakah audiensnya, apa latar belakangnya, dsb. Hal itu mutlak diperlukan agar isi yang kita sampaikan bisa ngena ke audiens. Nah, dengan kondisi gue di atas, apakah gue salah? Tentu tidak. Karena audiensnya adalah sesama mahasiswa. Bicara masalah hal yang berbau akademis tentulah tidak salah kan? Apalagi yang berkaitan dengan kehidupan kita di masa depan. Oh ya, fyi. Di pamflet pengumuman tidak ada ketentuan tema tertentu lho. Bahkan gue udah tanya ama Pembina pondok, yang menyatakan kalo gak ada batasan tema dan jenis audiens tertentu.

Yang kedua, mengenai isi yang harus merakyat. Ketika masyarakat hanya mengenal hal itu-itu saja, apakah tidak sama saja kita membodohi diri kita sendiri serta membodohi mereka. Kenapa membodohi diri kita sendiri? karena ketika kita mempunyai nikmat lebih disbanding mereka utamanya dalam ilmu pengetahuan, dan kita tidak menyampaikannya lebih agar mereka mendapatkan wawasan baru, bukankah itu sama saja merendahkan diri kita sendiri. lalu, buat apa kita belajar jauh-jauh kalo hasilnya pun tidak bisa di transfer ke masyarakat. Membodohi mereka? Tentu saja. Seiring hanya itu-itu saja informasi yang disampaikan, tentu saja membuat wawasan mereka semakin sempit. Maka, jangan kaget jika  masyarakat muslim akan semakin tertinggal ketika mereka tidak ditransfer suatu wawasan baru yang berkaitan dengan kehidupan kita.

Gue sendiri tidak menolak untuk dikritik. Namun, yang gue sesalkan kritiknya itu tidak mengarah ke suatu hal yang fundamental. Ada kritik yang gue terima, utamanya mengenai cara public speaking yang harus diperbaiki, persiapan yang harus lebih matang, dll.

Dan pada akhirnya, gue sendiri semakin berpikir, segitu jauhkah gap pendidikan kita di Indonesia, antara yang di kota besar dengan di daerah. Sehingga paradigma yang muncul semakin sempit akan suatu hal.  Mungkin inilah PR terbesar bagi siapapun presiden RI nantinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s