KKN’s First Post

Terhitung sejak tanggal 11 Juli lalu, gue udah resmi mengikuti KKN di Selo, Boyolali. Sebenernya sih udah mulai dari tanggal 10 Juli. Tapi, unit gue baru berangkat tanggal 11 pagi. Dan lagi, upacara penyambutan oleh kecamatan juga baru tanggal 11 Juli. Jadi ya, bisa dibilang gue baru KKN ya tanggal 11 juli itu.

Bicara tentang tempat KKN, gue sendiri dari awal emang prefer buat milih tempat dingin. Jadinya ya gue milih Selo. Selain itu, faktor kejelasan tempat juga menjadi alasan pemilihan tempat KKN gue. Sebenernya, gue sendiri ada kesempatan buat KKN di jogja. Tapi, kalo milih jogja jadinya terlalu random. Dan bisa ditempatin dimana saja. Selain itu, faktor mitra pun juga menjadi salah satu pertimbangan gue. Yap, KKN gue bermitra dengan BI Solo. Meskipun pada akhirnya gue baru sadar, kalo bentuk kemitraannya bukan berupa dana segar.

Kesan pertama gue selama hampir sepuluh hari ini adalah dingin, air, dan Jawa. Dingin. Suhu disini sangat-sangat dingin. Bahkan pernah pada suatu malam, suhunya hampir mencapai 90 C. bisa dibayangkan bagaimana dinginnya. Hahaha. Apalagi gue Cuma tidur beralaskan tikar dan sleeping bag. Untung saja sleeping bag yang gue beli berjenis double polar plus dakron. Itu apa? Gue juga gak tau. Hahaha. Gue Cuma milih yang keliatan paling tebel. Hahaha.

Air. Yap, meskipun disini berada di antara gunung merapi dan merbabu, tapi disini ternyata kekurangan air. Ironis kan. Ketika biasanya di kaki gunung banyak air. Tapi, disini ternyata kekurangan air. Jangan heran kalau disini mandi pun hanya dua hari sekali. Bukan dua kali sehari. Untungnya sih disini cuaca dingin. Jadi, gak keringetan. Hahaha. Kalau kita memaksakan mandi dua kali sehari kayak pas di jogja, tentunya itu sangat gak etis. Ketika masyarakat yang sudah biasa tinggal disitu menghemat-hemat airnya, lah masa kita yang pendatang malah membuang-buang air dengan cara mandi dua kali sehari.

Jawa. Yap, disini primary languagenya adalah Bahasa jawa. Sering banget gue roaming disini. Apalagi kalau udah make Bahasa karma inggil. Kalau boleh angkat tangan ke kamera pertanda menyerah, pasti udah gue lakuin dari kemaren-kemaren. Haha. Kosa kata monggo, inggih, matur suwun, sudah menjadi kosa kata wajib disini. Hahaha

Seiring waktu, banyak hal baru yang gue dapet disini. Yang paling kelihatan ya shock culture yang terjadi. Agak lebay juga sih itu. Hahaha. Tapi, perbedaan kehidupan kota dan kehidupan desa bener bener kerasa disini. Tradisional dan kental dengan suasana adat. Dua hal yang bisa dibilang berbeda dengan kehidupan kota. Meskipun Yogyakarta adalah kota budaya dengan keberagaman adatnya, namun kondisi di desa masih berbeda cukup jauh dengan di kota (Yogyakarta). Bisa dibilang disini sangat kuat pengaruh adat terhadap kehidupan

Dan pada akhirnya, ada banyak hal yang gue kangenin dari kehidupan pra kkn setelah kkn berjalan hampir satu bulan. Pantai, panas matahari, air melimpah, bahkan kemacetan. 3 hal yang sama sekali tidak terasa di Selo. Hahaha. Meskipun gue disini dihibur dengan pemandangan alam yang menajubkan, dingin yang menyejukkan, tapi lama-lama ya bosen juga. Dan pada akhirnya, yang paling gue kangenin adalah…. kamu

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s