Pelajaran Lain dari FM

Football manager. Sebuah game yang mana menjadikan kita sebagai seorang manager dari sebuah tim sepak bola. Menurut gue, FM, panggilan setia football manager, bukanlah sekedar game biasa. Ada banyak pelajaran yang bisa gue ambil dari game ini. Gue akan membagi kedalam dua sudut pandang. Sudut pandang manager dan sudut pandang pemain.

Sebagai manager, kita dituntut untuk berpikir secara general dan menyeluruh. Kita tidak bisa asal jual dan beli pemain seenaknya. Karena, aka ada banyak efek yang timbul akibat transaksi yang kita lakukan. Misalnya neraca bisnis klub, reaksi supporter, reaksi tim, atau reaksi dari (board manajemen klub). Layaknya kita dalam mengambil sebuah keputusan. Kita tidak dapat mengambil keputusan seenak kita sendiri. karena akan ada akibat yang timbul dari setiap keputusan yang kita ambil.

Sebagai manager, kita dituntut untuk bisa mengatur waktu training tim, waktu uji coba pemain, dan lain sebagainya. Hal itu sangat berpengaruh kepada kondisi fisik pemain. Utamanya apabila kita menghadapi kondisi jadwal pertandingan yang sangat padat. Salah mengatur waktu, efeknya bisa panjang dan parah. Bila fisik pemain terkuras akibat waktu training yang kurang tepat, atau mengadakan uji coba yang tidak penting, akibatnya pada saat tim bertanding pada kompetisi yang sesungguhnya, penampilannya tidak akan maksimal. Kalau kalah terus akibat fisik yang kedodoran terus, bisa berujung kepada pemecatan. Dalam kehidupan nyata, manajemen waktu sangatlah penting. Sepandai-pandainya kita atau sejago-jagonya kita, apabila tidak pandai dalam membuat manajemen waktu yang baik, maka kerjaan kita akan kacau. Lebih buruk lagi, teman kita yang sudah punya rencana lain bisa ikutan terkena imbasnya. Ya bisa dibayangkan kan betapa bersalahnya kita misalnya kita merusak rencana orang lain akibat manajemen waktu kita yang buruk.

sebagai manager, di awal-awal permainan kita akan sulit mendapatkan kepercayaan dari para pemain. Apalagi kalau kita menggunakan basic manager yang reputasinya unknown. Dan sangat sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari pemain. Ketika kepercayaan itu telah muncul, tugas para manager selanjutnya adalah menjaganya. Sekalinya kita salah menggunakan kepercayaan itu, para pemain akan langusng kembali tidak percaya kepada kemampuan kita. Ya, layaknya dalam kehidupan sehari-hari. Trust itu sangat penting. Sekalinya salah menggunakannya, sangat sulit untuk mengembalikan kepercayaan itu kembali.

Sebagai manager, utamanya kepada pemain muda, sebagus-bagusnya bakat seorang pemain, apabila tidak pernah dicoba dalam pertandingan tidak akan pernah kelihatan. Semakin banyak pemain itu dicoba, semakin terasah pula skill dan visinya. Siapa tidak kenal adnan januzaj. Ketika masih di akademi, pemain tersebut mungkin biasa saja beritanya. Meskipun di FM 2014 memang sudah dilabeli sebagai wonder kid. Tapi, skill-nya tidak akan sebaik sekarang kalau moyes tidak memainkannya rutin pada musim lalu. Jadi, yang benar-benar dibutuhkan seorang pemain muda yang mungkin reputasinya unknown adalah chance untuk membuktikan diri. Dalam kehidupan nyata, tidak berbeda jauh juga sih. kita membutuhkan suatu kesempatan untuk membuktikan diri kita. Bila kesempatan itu tidak ada, bagaimana kita bisa membuktikannya.

Sebagai pemain, utamanya pemain muda, harus melalui segalanya dari bawah. Gak bisa pemain baru keluar akademi langsung minta fasilitas seperti CR7. Bahkan seorang CR7 pun harus merangkak dari bawah. Yang gue baca, CR7 itu selalu datang paling awal pada saat awal latihan, dan pulang paling akhir saat selesai latihan. Sehebat apapun pemain itu, apabila masih keluar dari akademi, belum ada sesuatu yang bisa pemain itu buktikan kepada dunia. Meskipun di akademi sukses, tapi belum tentu di dunia professional bisa bagus. Banyak contoh seperti itu. Pemain bagus di akademi, pas di klub aslinya malah makin terpuruk. Barulah ketika pemain tersebut sukses di klub profesional, baru bisa minta fasilitas yang lebih baik dari sebelumnya. Meskipun gak semua kayak gitu. Messi dari akademi hingga sekarang selalu sukses. Tapi, jumlah orang kayak gitu gak banyak. Analogi yang sama dengan anak fresh graduate. Ketika kita udah lulus, kita gak bisa minta gaji seenaknya ke perusahaan. Karena pengalaman kita masih 0. Belum ada bargain position yang kuat pada posisi kita. Namun seiring berjalannya waktu, tentu dengan kerja keras, bisa mencapai fasilitas yang kita idam-idamkan. Ya sekali lagi. Ada yang setelah lulus langsung dapet fasilitas yang wow. Tapi tentu dengan responsibility yang wow juga. Gue sendiri kalau boleh memilih, gue lebih prefer seperti CR7 daripada Messi. CR7 memulai karir dari bawah dan bisa mencapai puncak karena kerja keras. Sementara messi lebih kepada skill atau bakat. Ya, ekspektasi kerjaan awal gue mungkin juga gak muluk-muluk. Karena gue sendiri sadar atas kondisi gue. Prestasi gue biasa aja, gak pernah ikutan proyek dosen, dll. Tapi gue sadar. Semua itu bisa gue rubah dengan semangat terus belajar dan terus bekerja keras. Dan juga semua itu didampingi pula oleh doa. (eh, malah curhat. Maafkan terbawa suasana. Wkwk)

Sebenernya masih banyak pelajaran yang dapat diambil dari bermain FM. Mau tau lebih lanjut? Just play the game. Cheers.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s